Aksi Nyata Mendirikan TAMAN BACAAN MASYARAKAT yang Sederhana .

Pada saat libur semester, yang terfikir dalam benak anak-anak sudah pasti ini adalah hari dimana mereka bebas dari pembelajaran dan buku. Bila momen ini tiba, mereka hanya menghabiskannya dengan bermain, bermain di luar rumah atau pun di dalam rumah. Sebagian anak yang hobi berolah raga, mereka akan memilih bermain diluar rumah, seperti bermain bola atau memancing ikan di kolam galian C yang berada di Desa Lubuk Kertang ini. Namun tidak dengan anak yang kurang suka dengan hal itu. Tempat apa yang mereka pilih ? Play Station, atau sekarang yang sedang marak adalah  Game Online, PUBG dan sebagainya yang tersedia oleh warnet dan bagi siswa perempuan, mungkin juga mereka  memilih bermain di rumah yaitu dengan gadget mereka, atau kumpul bersama teman-teman mereka jika di luar rumah.

Melihat kondisi ini, saya Nazaruddin S.PdI pemuda asli dari desa penghasil bijih kedawung  ini merasa miris, karena disaat mereka masuk sekolah kembali, semua pelajaran seakan hilang dari benak mereka apa yang telah mereka pelajari di dalam sekolah/madrasah . Akhirnya saya memanfaatkan buku-buku di perpustakaan  MTs Madinatul Ilmi yang saya kelola untuk membuka Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di awali dengan membuka lapak baca dari dusun ke dusun. Agar anak-anak tidak lagi mengisi kekosongan hari mereka dengan kegiatan yang kurang positif atau bahkan tidak  bermanfaat.

TBM yang saya dirikan sejak tanggal 20 Mei 2018 ini saya beri nama dengan ”TBM SETARA”. Nama ini memiliki arti tersendiri untuk saya, kata “ SETARA” mengandung arti bahwa siapa pun bisa datang dan bersilaturahmi ke TBM ini tanpa memandang status, pangkat serta jenis kelamin semua yang berkunjung wajib mendapatkan pelayanan yang terbaik dari Pengelola TBM SETARA ini. Desa Lubuk Kertang  yang merupakan Tanah kelahiran saya ini sebagian besar merupakan lahan pertanian, warga desa juga sebagian besar hidup dari menanam padi. Termasuk saya, saya bisa meraih  gelar S.Pd.I dari IAIN SU Medan tahun 2009 juga berkat doa,usaha orang tua yang juga sebagai petani padi.

Namun menjadi petani bukanlah cita-cita saya, akan tetapi  menjadi  orang yang dapat membawa nama desa ini mendunia, itu lah yang saya cita-citakan. Maka dari itu saya juga ingin menjadikan desa ini adalah desa yang memiliki sumber daya manusia yang berkualitas dan generasi yang berbudi luhur. Inilah tujuan yang hakiki dari hati saya sehingga saya mendirikan Madrasah dan TBM SETARA ini.

Saat ini saya mendapat amanah  juga sebagai Pengurus /anggota salah satu FORMALINDO ( Forum Masyarakat Literasi  Indonesia ) Kabupaten Langkat yang berdiri sejak tahun 2017 , pada waktu itu sekjend Formalindo sumut Bapak Agus Marwan dan Bapak Miskun yang membantu terbentuk nya Formalindo Kabupaten Langkat dan salah satu dasar pendirian Formalindo ini , karena Provinsi Sumatera Utara telah mendeklarasikan sebagai Provinsi Literasi ke –IV . Melalui forum ini saya mendapatkan ilmu bagaimana caranya bisa menarik minat baca anak-anak melalui TBM dan Lapak Baca, kemudian juga saya banyak mendapat  pembinaan dan wawasan tentang gerakan LITERASI .

Proses Pendirian TBM Setara ini bukan secara kebetulan , paling tidak cukup menyita waktu, tenaga serta fikiran , tepat nya tanggal 20 Mei 2018 awal berdiri TBM SETARA ini yang beralamat di Desa Lubuk Kertang , paling tidak niat dan komitmen yang kuat lah yang menjadi semangat untuk mendirikan TBM SETARA ini , karena tanpa niat dan komitmen yang kokoh, sudah dapat dipastikan TBM yang saya dirikan tidak akan berumur panjang. Alhasil, tidak ada gunanya membangun TBM, sehingga yang patut disesali bila anak-anak dan masyarakat sudah punya “harapan” tapi “terbunuh” karena TBMnya tidak lagi beroperasi.

Sungguh, tidak mudah mendirikan dan mengelola TBM. Sementara orang di luar sana, baru sebatas ingin saja, diskusi, berwacana, ikut seminar dan pelatihan tentang mendirikan TBM dan lain sebagainya namun tidak kunjung TBM yang direncanakan berdiri. Pegiat literasi yang ingin mendirikan TBM harus mampu mengubah “niat baik menjadi aksi nyata” dalam bentuk taman bacaan masyarakat. Dari niat yang kokoh inilah saya mendirikan TBM SETARA ini dan berjalan sampai sekarang.

Teman-teman penggiat literasi sering bertanya bagaimana mendirikan TBM yang sederhana namun bisa berjalan dan memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.

Pertama, yang saya lakukan adalah meriset dan studi kelayakan demografi. Mendirikan TBM, tentu tidak boleh gegabah. Karena faktanya sekarang, ada TBM yang beroperasi tapi pembacanya tidak ada. Atau sebaliknya, pembacanya sangat banyak tapi TBM nya tidak ada. Untuk itu, sebelum saya memutuskan mendirikan TBM langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan “ riset sederhana dan studi kelayakan demografi ” terhadap anak-anak dan masyarakat di daerah tempat TBM yang akan saya dirikan. Riset dan studi kelayakan pada dasarnya untuk mengetahui, apakah ada anak-anak dalam jumlah yang banyak sebagai calon pembaca di daerah tersebut, apakah masyarakat khususnya para orang tua mendukung untuk didirikannya TBM di daerah mereka, dan apakah keberadaan TBM bisa membuat perubahan pada masyarakat tersebut?

Jika semua pertanyaan di atas sudah terjawab dan disambut baik, maka langkah untuk mendirikan TBM sudah sangat mudah dilaksanakan, karena sudah ada sambutan baik dari masyarakat sekitar.

Kedua, Koleksi Buku Bacaan Tersedia. Jika sudah tersedia tempat baca dan rak buku serta izin TBM, hal yang paling mutlak harus disiapkan segera mungkin adalah koleksi buku bacaan yang memadai baik dari jumlahnya ataupun ketersediaan bacaan yang sesuai dengan yang mereka harapkan. Artinya, TBM hanya bisa beroperasi bila ada bukunya. Maka koleksi buku bacaan dipastikan harus tersedia. Awalnya, koleksi buku yang saya miliki hanya puluhan atau ratusan. Tapi dengan seiring waktu berjalan, banyak orang atau instansi yang menyumbangkan buku baru atau buku lama layak pakai untuk bahan bacaan di TBM yang saya kelola, sehingga saat ini koleksi di TBM SETARA sudah mencapai hampir 2.000 eksemplar dengan lebih kurang 1000 judul buku. Kenapa harus ribuan buku? Agar anak-anak dan masyakarat yang membaca tidak kehabisan buku bacaan alias selalu ada judul buku baru yang bisa dibaca. Sistem rotasi selalu saya terapkan dalam membuka Lapak Baca agar para pembaca tidak bosan dengan koleksi buku yang itu-itu saja.

Gimana caranya saya mendapatkan bantuan buku? Pertama, saya memperoleh buku bacaan dari meminta ke rekan-rekan yang ingin menyumbangkan buku baru atau yang memiliki buku lama layak pakai untuk didonasikan ke TBM SETARA. Kedua, buku yang sudah didonasikan oleh teman atau rekan, saya publikasikan ke sosial media untuk memberi inspirasi kepada orang lain agar bisa ikut berdonasi dalam rangka mencerdaskan anak bangsa melalui Gerakan Sumbang Buku yang bersifat tidak mengikat. Ketiga, melakukan pendekatan kepada perintah terkait dalam hal ini adalah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan baik di kabupaten maupun Provinsi, sehingga pada tahun 2018 TBM SETARA memperoleh bantuan Hibah Buku dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Utara sebanyak 100 Eksemplar dengan 50 judul buku. Pada tahun 2020 TBM SETARA mendapatkan Program Kereta Pustaka dan 200 eksemplar buku dari CSR PT. Bank SUMUT, untuk menambah koleksi buku dan mempermudah mobilitas TBM SETARA dalam programnya membuka Lapak Baca, yang selama ini hanya menggunakan sepeda motor milik pribadi saya. TBM SETARA juga memperoleh bantuan lemari buku dari PT. PETAMINA Pangkalan Susu tahun 2020.

Kembali ke bagaimana cara mendirikan TBM. Ketiga, Menenentukan Jam Baca dan Petugas Jaga TBM. Sekalipun bersifat sosial, TBM tidak bisa dikelola sembarangan. Sebagai contoh, TBM yang baik, menurut saya, harus punya jam baca. Artinya, ada waktu tertentu yang ditetapkan untuk kapan waktunya anak-anak membaca, kapan waktunya remaja membaca, dan kapan waktunya orang dewasa membaca. Sehingga penanganannya bisa ditanggulangi sesuai dengan golongan mereka.

Tidak mungkin waktu anak-anak membaca digabungkan dengan remaja atau orang dewasa, pasti mereka akan riuh sehingga tidak kondusif. Jika sudah begini, pasti remaja dan orang dewasa merasa terganggu pada saat membaca, bahkan tidak berminat lagi untuk datang ke TBM kita. Bukan sembarang waktu dan setiap hari bisa membaca. Karena TBM bukan perpustakaan. Dengan jam baca, anak-anak jadi punya jadwal khusus untuk ke TBM. Selain itu, TBM juga harus memiliki tempat yang nyaman dan jauh dari keramaian yang menyebabkan konsentrasi pada saat membaca menjadi terganggu.

Sedangkan bagi Petugas jaga yaitu orang yang secara khusus melayani anak-anak saat jam baca. Petugas jaga bisa dibilang sebagai orang yang “buka tutup warung TBM”. Sampai saat ini petugasnya masih istri saya secara bergantian dengan saya dan di bantu dengan guru di MTs Madinatul Ilmi.

Keempat, membuat  event mingguan di TBM. Event mingguan ini hanya sebagai strategi  marketing, agar anak-anak selalu semangat dan termotivasi untuk membaca di setiap jam baca. Setiap hari, siapa pun yang datang ke TBM untuk membaca, maka akan mendapatkan 1 buah kupon untuk satu kali kunjungan dan akan diundi setiap minggunya tepat pada hari Minggu. Bagi nomor kupon yang keluar akan mendapatkan hadiah menarik. Hadiah bisa berbeda-beda sesuai dengan kemampuan TBM dalam  menyediakannya. TBM SETARA menyediakan ATK sebagai hadiah dari kupon yang terpilih tersebut.

Kelima, Bekerjasama dengan Korporasi/Komunitas. Patut diingat, TBM adalah pekerjaan sosial. Selain butuh komitmen dan waktu khusus, TBM juga membutuhkan biaya operasional khususnya untuk membeli buku baru dan kebutuhan TBM lainnya. Oleh karena itu, TBM harus menjalin kerjasama dengan pihak korporasi atau komunitas yang peduli terhadap gerakan tradisi baca dan budaya literasi. Sebutlah, mengajak CSR ( Corporate Social Responsibilty ) korporasi atau komunitas. Agar mereka juga bisa ikut serta membantu TBM, toh untuk kebaikan anak-anak generasi penerus bangsa agar rajin membaca. TBM SETARA sudah mendapatkan CSR dari berbagai perusahaan sebagaimana telah disebutkan.

Keenam, membuat secara nyata atau postingan di media sosial tentang  Aktivitas TBM kita. Hal ini sudah saya lakukan dan TBM SETARA disambut baik oleh masyarakat yang membaca postingan saya. Sekarang ini zaman milenial, zaman media sosial. Maka tidak ada salahnya, apapun aktivitas yang dilakukan di TBM harus dipromosikan atau disebarluaskan melalui media sosial. Hal ini penting agar kita bisa menunjukkan aktivitas TBM yang digemari anak-anak dan berdampak langsung buat masyarakat. Promosikan tiap jejak kebaikan yang dibuat oleh TBM kita, saya yakin TBM yang kita dirikan merupakan untuk kemaslahatan umat, maka saya rancang dan promosikan kepada  orang lain agar mereka tahu aktivitas yang ada di TBM SETARA. Bagaimana masyarakat bisa tahu jika kita tidak memberi tahu. Mudah-mudahan dengan publikasi yang kita lakukan, orang lain tidak hanya tahu TBM kita ada, namun juga bisa membuka peluang agar fasilitas di TBM kita bisa bertambah dengan mendatangkan pendonasi yang potensial baik mengikat ataupun tidak.

Menurut saya mendirikan TBM memang pekerjaan sosial. Tapi tata cara mendirikan dan mengelolanya harus profesional tidak asal-asalan dan sembarangan. Perlu strategi dan manajemen yang jitu, jika perlu langkah yang kita lakukan adalah langkah yang luar biasa bahkan out of the box, agar TBM kita mempunyai ciri khas tersendiri dan mampu bertahan di era globalisasi saat ini dan akan datang, yang nota benenya semua ada dalam sentuhan jempol saja. Selain tujuan itu, dengan adanya strategi dan manajemen yang biak, kita bisa mengukur kemajuan dan dampak TBM kita di masyarakat.

Terakhir, tradisi baca dan gerakan literasi harus dipahami sebagai sebuah gerakan dan perilaku, perbuatan bukan sebatas pelajaran atau teori belaka seperti pepesan kosong, namun jadikan budaya Membaca sebagai gaya hidup anak-anak dan masyarakat untuk mengimbangi gempuran era digital seperti sekarang. Jika tidak, maka anak-anak kita akan tergerus bahkan tersingkir “di makan” zaman dan peradaban.

Dalam menjalankan TBM SETARA tidak sedikit suka dan duka yang kami lalui, tetapi kami malah semakin semangat dan pantang menyerah karena kami di awal mendirikan TBM SETARA ini ada nilai-nilai yang kami pegang teguh yaitu :

  • Niat yang teguh. kenapa ini saya letakkan di nomor satu karena memang tanpa niat yang teguh akan sangat sulit sekali memastikan taman baca ini akan berdiri dan bertahan. Hampir semua taman baca adalah berbentuk aksi sosial dan mandiri sebagai bentuk kepedulian atas kondisi lingkungan yang harus diakui masih sangat rendah minat baca dan mencari ilmu.
  • Komitmen yang kuat , Tanpa komitmen yang kuat apapun dan rencana sebagus apapun tidak akan dapat bertahan lama apalagi memberikan manfaat untuk lingkungan sekitar.
  • Istikomah mengajak masyarakat agar gemar membaca untuk memberantas kebodohan dan keterbelakangan.
  • Tidak berpikir terlalu muluk.Percayalah jika ingin menarik anak-anak untuk gemar membaca bukan hanya jumlah koleksi buku dan kemewahan lokasi yang mereka cari namun kenyamanan dan keceriaan pengelola dalam menyambut mereka. Jadi walaupun hanya bermodalkan 1 rak buku dan tikar butut, asalkan hati pengelolanya lapang menerima pengunjung yang datang, insya allah pengunjung akan datang serta membaca buku.

TBM adalah peninggalan terakhir kita, suatu saat bila kita tiada. Bacalah dan Tuhanmu sangat pemurah, karena telah mengajarkan kita dengan pena, yang mengajarkan manusia tentang apa yang tidak diketahuinya”. (QS.Al-Alaq :1-5)

* Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba praktik baik TBM tahun 2020

** Penulis adalah Founder TBM SETARA Desa Lubuk Kertang dan Pengurus FORMALINDO Langkat

Oleh : Nazaruddin S.PdI

DISKUSI PROGRAM FORMALINDO LANGKAT TAHUN 2020.

Program bukalapk baca TBM Setara Desa Lubuk Kertang.

Jamuan Makan Malam 2018 di Rumah Dinas Gubernur Sumatera Utara dalam rangka Syukuran Penulis dan Penggiat Literasi

Memberikan Buku karya Kepala TBM SETARA kepada Dinas Perpusda Sumatera Utara.

Bincang-bincang Pendidikan di TVRI bersama Guru Besar Unimed dan Ka. DInas Pendidikan Kab. Langkat.